Adapun Yeru menciptakan makhluk-makhluknya dari Tanah Bumi sebagai daging mereka dengan Batu dan Air sebagai tulang dan darah mereka. Maka tercongkellah kulit dan daging Bumi dan terbukalah pintu bagi Sang Dewa Gelap Malam untuk melarikan diri. Bersama Senja dan Bulan yang terlahir untuknya, keluarlah ia dari perut Bumi. Tetapi butalah matanya karena silaunya sinar Matahari ketika mencapai permukaan Bumi. Maka marahlah Senja atas kebutaan yang menimpa Sang Dewa Gelap Malam sehingga Senja selalu berusaha melenyapkan Matahari.
Berkatalah Senja kepada Matahari, “Terkutuklah kau, wahai Putra Loze, karena cahayamu telah membutakan mata Kekasihku! Biarlah Langit menarik engkau untuk selalu datang kepadaku, supaya aku bisa memadamkan apimu dan membinasakan jiwamu. Sebab bapamu tidak menyelamatkan aku ketika aku berada di bawah sana, bahkan mungkin ia telah melupakan aku untuk selama-lamanya. Biarlah Pagi akan selalu meratapi kematianmu, dan menghentikan tawa kemenangannya atas diriku.” Kemudian dibawanyalah Sang Dewa Gelap Malam bersama putrinya ke Ujung Barat Dunia, tempat ia seharusnya berdiri.
Tetapi oleh sang Waktu, Matahari dikaruniai Keabadian sehingga setelah mati di tangan Senja, ia dapat dilahirkan kembali oleh Pagi di Timur. Berkatalah Sang Waktu kepada Senja, “Sekali-kali engkau tidak bisa membinasakan dia untuk selama-lamanya sebab telah aku berikan Keabadian kepadanya untuk menerangi jalanku. Biarlah Matahari menjalani takdirnya setiap hari, terlahir kembali setelah engkau mengambil kehidupannya.”
Dan berakhirlah Masa-masa Tanpa Kegelapan. Malam mulai menguasai Masa setelah kematian Matahari dan sebelum Matahari dilahirkan kembali oleh Pagi. Di tengah kebutaan matanya dengan bantuan Senja, Sang Dewa Gelap Malam membangun Kekuatannya di Ujung Barat dan menciptakan makhluk-makhluk Kegelapan sebagai bala tentara perangnya melawan Kekuatan Terang di Timur. Terlihatlah semua itu oleh Matahari dan diberitahukannyalah tentang rencana perang itu kepada ibu-bapanya.
Setelah Senja melihat makhluk-makhluk fana yang diciptakan oleh sang Dewa Tertinggi. Datanglah ia kepada suaminya, Sang Dewa Gelap Malam dan berkata, “Wahai suamiku, wahai kekasihku! Sang Penguasa Kegelapan yang aku cintai. Telah aku lihat segalanya dengan kedua mataku, beberapa makhluk berkeriapan di atas Bumi. Yeru telah menciptakan mereka dari tanah Bumi, dan memberikan mereka kehidupan. Mereka dipersenjatai dengan tubuh yang besar dan kuat, dan dipersiapkan untuk melawan kita. Maka baiklah kita menciptakan makhluk-makhluk kita, dan memberikan mereka kehidupan. Tubuh yang besar dan perkasa juga ada pada mereka, sebagai bala tentara perang kita melawan Sang Terang. Dengan sepasang sayap mereka terbang di atas Bumi, supaya Langit pun takut kepada kita yang menciptakan mereka. Biarlah mereka menyerang Daratan Bumi terlebih dahulu, membinasakan makhluk-makhluk Yeru dengan nafas mereka.”
Maka diciptakannyalah oleh Sang Dewa Gelap Malam Naga-naga raksasa dalam jumlah besar dari Batu karang dan lumpur panas. Dikaruniakannyalah mereka dengan sayap dan nafas yang menyebarkan Wabah Kematian bagi yang menghirup. Dan dipersenjatainya mereka dengan tanduk-tanduk yang terpasang pada punggung dan ekor mereka. Kemudian Senja membesarkan mereka seperti anak-anaknya sendiri.
Setelah dikaruniai jiwa yang bersinar oleh Sang Dewa Terang Siang, maka kepada sepasang Manusia itu datanglah Kebijaksanaan dan Pengetahuan, yang tidak datang kepada jenis makhluk lainnya sehingga mereka menamakan diri mereka sendiri Nete dan Yehi. Dan oleh merekalah segala jenis makhluk ciptaan Sang Dewa Tertinggi diberi nama. Dan datang pula Cinta kepada mereka sehingga membuat mereka saling mencintai. Maka bertambahlah besarlah cinta Nete kepada Yehi dan setiap hari dinyanyikannyalah sebuah lagu bagi kekasihnya itu sehingga lahirlah bagi Nete tiga orang putra, bapa-bapa Manusia. Dan kepada putra-putra mereka diajarkannyalah Kebijaksanaan dan Pengetahuan.
Inilah nyanyian cinta Nete kepada Yehi,
“ Kemilau rambutmu seperti cahaya Matahari,
yang menerangi Dunia setiap harinya.
Halus kulitmu seperti permukaan Air,
yang mengalir tenang dari mata air abadi.
Buah dadamu seindah gunung-gunung,
dengan puncaknya yang selalu tertutup awan.
Suaramu merdu seperti aliran Sungai,
sungguh lembut menyejukkan hati yang kalut.
Gemulai gerakanmu seperti semak tertiup Angin,
meliuk-liuk indah di padang hijau.
Matamu bagaikan batu-batu permata yang indah,
yang berkilau-kilauan diterpa cahaya Matahari.
Bibirmu merah semerah buah Lened,
sungguh indah seindah kata-kata yang keluar darinya.
Wahai, Yehi, makhluk tercantik yang pernah kutemui,
kecantikanmu mengalahkan segala yang ada di permukaan Bumi.
Bahkan cahaya Pagi tidak mampu mengalahkan keindahanmu,
yang merupakan karunia pemberian Sang Dewa.
Maka aku bersyukur kepada Putra Langit dan Bumi,
yang telah menciptakan engkau hanya untukku.”
Maka jawab Yehi,
“ Kau juga indah di mataku, wahai kekasihku,
Ciptaan terindah yang pernah ada di permukaan Bumi.
Tubuhmu yang perkasa cukup untuk melindungiku,
dan keberanianmu menghadapi bahaya menjaminku.
Lengan-lenganmu seperti batang pohon Menol,
kuat dan tidak bergerak tertiup Angin.
Matamu seperti cahaya emas Pagi,
yang menyibakkan kegelapan di hatiku.
Suaramu seperti gemuruh ombak lautan,
yang mampu memecahkan kesunyianku
Kata-katamu sungguh meyejukkan jiwaku,
membawa damai kepadaku dan kepada anak-anakku.”
Adapun Matahari menjalani takdirnya setiap hari, dilahirkan oleh Pagi di Timur menempuh perjalanan melintasi Laut dan daratan Bumi untuk mati di tangan Senja di Barat. Suatu hari, kelihatanlah oleh Yehi keindahan selubung cahaya Matahari sehingga jatuh cintalah Yehi kepadanya. Maka keesokan harinya, ketika Pagi melahirkan Matahari, pergilah Yehi meninggalkan suami dan anak-anaknya ke Laut Timur untuk menyambut kedatangan Matahari di Timur. Tetapi matilah ia tenggelam di Laut Timur.
Ketika Matahari sedang menyeberangi Laut Timur, ditemukannyalah tubuh Yehi dan menangislah ia, sebab wanita itu telah mengorbankan diri untuk menyambut kedatangannya ke Dunia. Katanya, “Wahai, Manusia, betapa indah cahaya jiwamu, sehingga kau telah mengorbankannya untukku. Sesungguhnya kematianmu tidak akan sia-sia, sebab kau telah membuka hatimu untuk menerimaku. Tidak ada makhluk di Dunia ini yang seperti dirimu, yang membuka tangannya menyambut kehadiranku.”
Kemudian dibawanya tubuh itu ke hadapan Sang Waktu. Dan kepada Sang Waktu, Matahari meminta menukarkan Keabadiannya dengan Kehidupan untuk Yehi, yang telah setia menantikan kehadirannya. Tetapi Sang Waktu menolak, dan hanya dapat memberikan kesempatan bagi makhluk fana itu untuk hidup sekali lagi. Berkatalah Sang Waktu, “Takdirku adalah ketetapanku yang tak dapat diubah, bahkan diriku sendiri tidak berkuasa menukarkannya. Karena kebodohannya, ia telah membunuh dirinya sediri, dengan harapan yang sia-sia untuk bertemu denganmu. Akankah kau menukarkan Keabadianmu untuknya, dan memberikan kehidupan padanya untuk kebodohan itu? Sesungguhnya belum saatnya bagi jiwanya untuk kembali ke Langit, sehingga aku akan memberikan kehidupan sekali lagi baginya.”
Maka bangkitlah Yehi dari kematiannya dan sebagai ungkapan terima kasihnya, ia menyerahkan tubuhnya untuk dimiliki Matahari sebab ia sangat mencintai Matahari. Matahari pun tanpa sepengetahuan Sang Waktu, menerima cintanya sebab wanita itu merupakan makhluk fana terindah yang pernah ia temui. Berkatalah Yehi, “Sesungguhnya aku adalah makhluk yang paling berbahagia, mendapatkan kesempatan hidup sekali lagi. Maka kuserahkan tubuhku kepada ia yang menolongku, kepada kekasihku yang lama kunantikan kehadirannya.”
Tetapi marahlah Sang Dewa Terang Siang melihat perbuatan putranya itu sehingga dihukumnyalah Matahari. Dan matilah Yehi setelah melahirkan seorang putra bagi Matahari. Kemudian Matahari tidak diperkenankan lagi berjalan di atas permukaan Bumi tetapi di bawah permukaan Langit supaya tidak lagi bersentuhan dengan makhluk fana lagi. Berkatalah Loze, “Wahai Matahari, ternyata cahayamu tidak seindah kelakuanmu, sebab kau telah melanggar aturan yang telah ditetapkan oleh Sang Waktu. Sesungguhnya makhluk fana dan makhluk abadi tidak boleh bersatu, sebab hal itu akan membawa Dunia ke dalam kebinasaan. Maka kau tidak akan menemui makhluk fana seperti dia lagi, sebab Bumi tidak akan memberikan engkau tempat berpijak. Di bawah Langitlah kau akan menempuh perjalanan takdirmu, sehingga kau tidak bisa mengganggu kehidupan Manusia.”
Adapun sangat bersedihlah hati Nete kehilangan wanita yang sangat dicintainya, sehingga pergilah ia meninggalkan putra-putranya di atas gunung dan mengembara untuk mencari kekasihnya itu. Tetapi matilah ia di dalam pencariannya itu. Maka Sang Dewa Terang Siang mengingatnya dan berbelas kasihan kepadanya. Diambilnya jiwa Manusia itu dan ditempatkannya di Langit Timur sebagai bintang yang bercahaya ketika Malam tiba bersanding dengan jiwa istrinya, Yehi. Dan Bumi menelan tubuh fananya sebab ia diciptakan dari daging Bumi.
Maka bernyanyilah Alam,
“ Lihatlah dua bintang di Langit Timur itu,
bercahaya kemilau sepanjang Masa.
Bintang Nete dan Yehi yang menjadi saksi,
atas kebaikan hati Sang Terang kepada Manusia.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar