Ketika Harapan telah menghilang bersama dengan padamnya Nyala Api Suci, terlihat dari Timur cahaya yang terang menyilaukan bersama dengan lahirnya Matahari. Seekor Burung Api raksasa terbang dengan gagahnya menuruni Gunung Timur, mendekati Naga-naga yang mengepung Rumah Agung.
Sayap Apinya yang membara tiada henti, sempat membuat gentar Naga-naga beserta para penunggangnya. Dan ketika Naga-naga itu hendak menyerangnya, Sang Burung Api membelah dirinya menjadi banyak dan sama besar. Masing-masing Burung Api menyerang musuhnya, membuat Naga-naga beserta penuggangnya terbakar dalam api dan mati. Beberapa Naga beserta penungangnya berusaha menyelamatkan diri, tetapi Burung-burung Api mengejarnya dan menghanguskan mereka dari belakang.
Menez dan Naganya tidak takut dan getar, dan melawan Burung-burung Api dengan nafas Kebekuannya. Tetapi Burung-burung Api itu tetap menyala-nyala, dan mengepung Menez dari segala penjuru. Naga Menez tersungkur kehilangan kekuatannya, terkuras habis dalam pertarungan itu. Terdengarah suara menggelegar dari antara Burung-burung Api itu, Neyelpe menunggangi salah satunya berbicara seperti seorang Dewa, “Wahai kau yang telah jatuh ke dalam Lubang Kegelapan, yang telah berpaling dan besekutu dengan Kegelapan! Kau sudah meninggalkan sang Pemberi Jiwamu, dan kau sudah menukarkannya dengan segala kejahatan. Sang Terang mengutusku untuk mengajakmu kembali, memalingkan wajahmu kepadanya. Ia akan mengampuni semua kesalahanmu, dan mengembalikan cahaya Jiwamu seperti sedia kala. Maka jika kau ingin kembali kepadanya, lakukanlah sekarang ini juga! Sebelum Apinya menghanguskan seluruh tubuhmu, dan membinasakan jiwamu untuk selama-lamanya. Sebab sesungguhnya Sang Terang mau mengampunimu, dan sanggup memulihkan semua luka-lukamu. Ia akan mengembalikan semua yang terampas darimu, termasuk Nurzug yang telah diambil daripadamu.”
Tetapi jawab Menez, “Aku tidak bersalah dan aku tidak merasa bersalah, sebab apa yang kulakukan adalah benar. Sang Terang telah mengkhianatiku dan meninggalkanku dan aku tidak bisa menerima hal itu. Apalah gunanya menyembah sesuatu yang buta, yang tidak melihat dan memerhatikan makhluk-makhluknya? Dan apalah gunanya menyembah sesuatu yang tuli, yang tidak mendengarkan permohonan hamba-hambanya?
Hanya kepada Sang Penguasa Kegelapanlah aku berbakti, kepada sang pemilik jiwaku yang mengerti apa yang kubutuhkan. Meskipun ia buta tetapi ia memerhatikan makhluk-makhluknya, dan telinganya senantiasa mendengarkan permohonan hambanya. Sang Terang telah mati dan kalah dalam perang ini, dan Sang Penguasa Kegelapanlah yang akan memenangkannya. Ia akan mengirimkan bala bantuan untuk menolongku, membinasakan kalian hingga tak bersisa.”
Sahut Neyelpe sambil menunjukkan penglihatan kepada Menez, “Burung-burung Api Sang Terang telah berada di Barat, dan menghancurkan istana tuanmu itu menjadi abu, Ia tidak akan membantumu lagi, sebab kami telah mengurungnya dalam kubah berapi. Ia tidak bisa menolong dirinya sendiri, Senja dan Musim Dingin pun tidak mampu. Makhluk-makhluk ciptaanya telah binasa, bahkan Bulan hanya bisa menangisinya. Maka sekarang kembalilah kepada Sang Terang, dan memohonah ampun kepadanya. Sebab tiada gunanya kau mengeraskan hatimu, dan tiada gunanya kau berpaling kepada Kegelapan.”
Kemudian Menez mengambil pedang esnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi di udara. Ia berbaring di atas punggung Naganya dan dengan lantang ia berseru, “Aku tidak membutuhkan nasihatmu, karena aku akan mengakhiri hidupku sendiri.” Setelah itu ditusukkannyalah pedang esnya ke dadanya dan menembus hingga punggung Naganya.
Sesaat kemudian matilah ia bersama Naganya, dan Burung-burung Api itu membakar tubuhnya. Sebab kata Neyelpe, “Bumi tidak menerima tubuhnya untuk dibaringkan, biarlah Api membakarnya hingga menjadi abu.”
Maka berakhirlah masa-masa sulit itu dan berakhirlah Perang Besar dengan kemenangan yang gemilang, Sang Terang kembali mengirimkan utusannya untuk menyelamatkan Dunia dari kehancuran. Burung-burung Api terbang berkeliling mencairkan es, dan mengusir kebekuan di permukaan Bumi. Neyelpe mengangkat tongkatnya dengan kedua tangannya, dan berkatalah ia dengan suara nyaring, “Sang Waktu belum menakdirkan kalian mati, maka bangunlah dari tidurmu, wahai putra-putra Matahari!”
Kemudian bangunlah mereka yang telah mati membeku, dan seluruh penjuru Dunia kembali terbangun dari tidurnya. Putra-putra Neyelpe, Wonigzeg dan ratu Duluguz membuka matanya, juga para ksatria yang pemberani mendapatkan kehidupannya kembali. Burung-burung Api kembali menyatukan dirinya, menyalakan Api Suci baru di puncak Menara Api. Neyelpe menanam benih Pohon Terang di Pulau Timur sebagai tanda Dunia dipulihkan dan dimulainya awal yang baru.
01 Agustus 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar